Cerita Enam Anak yang Jadi Yatim Piatu dalam Sehari 

Suasana rumah Wa Ode Rusdiana (53) di kawasan RT 20 Sepinggan Raya, Balikpapan Selatan, mulai kemarin ramai didatangi ratusan warga Balikpapan. Mereka miris mendengar informasi ada 6 bocah yang menjadi yatim piatu dalam waktu sehari. Nomor rekening permohonan bantuan ramai di media sosial.  

——————-

DENGAN mata berkaca-kaca, Rusdiana, nenek 6 bocah tersebut  menceritakan kejadiannya. Kenapa cucunya tiba-tiba menjadi yatim piatu. Almarhumah Siti Haryanti (27) yang merupakan anak pertamanya meninggal dunia secara tiba-tiba pada Minggu (23/2) pagi. Sekitar pukul 08.00 Wita.

Dari pernikahannya bersama Yaya Hardani, Siti memiliki 6 anak, yakni Ali Mardani (9), Alika Mardani (7), Alifa Alfira Mardani (6), Aldo Lilah Mardani (4), Dira Naura Mardani (2) dan Safayanti Bulan Mardani yang masih berusia 1 bulan 6 hari.

Menurut Wa Ode, tidak ada tanda-tanda khusus yang diperlihatkan almarhumah sebelum meninggal dunia. Pernah mengeluh tentang penyakit darah tinggi yang sering kumat. Beberapa hari terakhir. Siti ditemukan sudah tidak bernyawa oleh Yaya Hardani dalam kondisi terbaring di lantai. Ketika sedang menginap di rumah mertuanya. Tak jauh dari rumah orang tuanya.

Yaya panik. Ia kemudian menghubungi temannya untuk meminta bantuan memeriksa kondisi istrinya. Dan ternyata sudah tidak bernyawa lagi.

Usai ditinggalkan sang istri, Yaya merasa tertekan. Tiba-tiba mengeluhkan sakit di dada. Selang beberapa jam, sekitar pukul 17.00 Wita, Yaya dilarikan ke Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan. Kemudian tak berselang lama Yaya dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa itu membuat duka mendalam bagi Wa Ode. Apalagi keduanya meninggalkan enam anak yang masih butuh perhatian. Namun begitu, ia tidak akan menyerahkan hak asuh keenam tersebut kepada orang lainnya. Itu sesuai wasiat yang pernah disampaikan almarhumah, sebelum dia meninggal.

“Seminggu sebelum meninggal, almarhumah pernah berpesan kepada saya, jangan menyerahkan anaknya kepada orang lain kalau dirinya meninggal. Meski tidak ada uang. Minta saja beras sama tetangga, asalkan tidak menyerahkan kepada orang lainnya,” ujarnya, Selasa (25/2).

Rusdiana menceritakan, sehari-harinya Yaya bekerja sebagai porter atau juru angkut di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan. Sedangkan Mustafa (53), suami Rusdiana, kakek dari keenam anak itu, bekerja sebagai tukang ojek.

BANTUAN WARGA

Diana, warga Sepinggan, merasa tergerak hatinya. Ketika mengetahui informasi yang berkembang melalui media sosial. Ia pun datang untuk memberikan bantuan kepada enam anak itu. “Saya tahu dari Facebook, ya langsung saja kesini,” ujarnya.

Warga lainnya, Rian mengaku berinisiatif untuk datang menyerahkan bantuan kepada keenam anak almarhumah, setelah berita tentang kejadian ini viral di media sosial. “Saya menyerahkan beberapa bantuan makanan untuk membantu anak-anak almarhumah,” jelasnya.

Kemarin itu, tampak juga Lurah Sepinggan Raya Arifuddin. Kelurahan Sepinggan, kata dia, data keenam anak almarhumah sudah masuk dalam program Penerima Bantuan Iuran (PBI). Anak-anak itu bisa menerima bantuan dari beberapa program, seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Keluarga Sejahtera dan Kartu Pintar bagi anak yang masih sekolah.

“Tadi sempat terkendala karena empat anaknya belum ada akta kelahiran. Tapi sudah diurus biar dimasukan dalam program bantuan di Dinas Sosial,” ujarnya.

Kini keenam anak yang ditinggalkan itu akan dimasukan dalam daftar Kartu Keluarga (KK) Mustafa, sebagai cucu.

HAPUS REKENING DONASI

Pasca viralnya enam anak yang ditinggal kedua orang tuanya, mulai bermunculan permohonan donasi yang nemampilkan nomor rekening di media sosial. Mengatasnamakan keenam bocah tersebut. Arifuddin menanggapi serius soal hal itu. Ia meminta kepolisian agar pencantuman nomor rekening itu diblokir.

Sejauh ini bantuan bagi enam orang anak almarhum Siti Hardianti Ode dan Yaya Hardani terus berdatangan. Ini lantaran banyaknya postingan di sosial media. Namun untuk menghindari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Yang memanfaatkan situasi seperti ini, dirinya telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk segera dilakukan pemblokiran.

Karena, kata dia, kelurahan, sebagai kepanjangan tangannya Dinas Sosial yang akan mencatat laporan bantuan yang masuk. “Tadi saya panggil juga keluarganya. Nanti akan kita laporkan dan itu akan dirilis oleh Dinas Sosial, berapa jumlahnya yang terkumpul berapa uang dan berapa barang,” ujarnya, Selasa (25/2).

Yang ramai di media sosial itu terdapat dua nama untuk dua rekening yang tercantum. Namun, pihak kelurahan hingga saat ini belum tahu laporan penerimaan dari dua rekening tersebut. “Seharusnya jika seseorang atau kelompok ingin membuat donasi, terlebih dahulu meminta izin kepada Dinas Sosial. Hal ini untuk mencegah oknum yang memanfaatkan situasi,” terangnya.

Ia berharap, jika masih ada masyarakat yang ingin membantu menyalurkan uang ataupun barang, bisa melalui PSM Kelurahan Sepinggan Raya atau langsung datang ke rumah nenek keenam anak tersebut di Jalan Sepinggan Baru 1 RT 20 Nomor 13 Kelurahan Sepinggan Raya, Balikpapan Selatan.

Tak hanya dari masyarakat Balikpapan, bantuan dari luar kota juga terus berdatangan. (bom/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*