Industri Lesu, Banyak Kapal Mangkrak Kehabisan Biaya

Direktur Teknik dan Marketing PT Allvina Prima Galangan, Muhammad Ridwan Abdul Gani Najjar. (Dian /Disway Kaltim)

Samarinda, DiswayKaltim.com – Krisis ekonomi Kaltim karena jatuhnya harga batu bara pada 2015 hingga 2016 lalu, berdampak pada industri galangan kapal di Bumi Etam.

Kini, meski ekonomi Kaltim sudah tumbuh stabil, tak demikian dengan industri yang bergerak dalam bidang produksi, reparasi, dan docking kapal ini.

Hal itu dirasakan PT Allvina Prima Galangan. Sejak krisis lima tahun lalu, industri galangan menjadi lesu. Disway Kaltim mengunjungi langsung perusahaan galangan ini di Jalan Dermaga Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara.

Aktivitas reparasi dan produksi memang terlihat sepi. Hanya ada satu aktivitas produksi, itu pun pilot project Kapal Swath Robin yang mendapat pendanaan dari investor luar negeri.

“Memang begini kondisinya galangan kita,” kata Muhammad Ridwan Abdul Gani Najjar, direktur Teknik dan Marketing PT Allvina Prima yang menyambut kedatangan tim Disway, Selasa (25/2).

“Ya lesu. Penyebabnya karena satu. Di sini, kapal untuk transportasi batu bara. Lesu di situ (batu bara, red) lesu juga di kita,” sambung Ridwan.

Ia pun menunjukkan produksi kapal-kapal yang mangkrak di galangannya. Total ada 8 kapal jenis tugboat yang mangkrak karena tersendat biaya produksi. Padahal jika selesai, kapal ini bisa dijual dengan harga Rp 12,5 milyar

Yah, belum laku. Jadi belum bisa kita lanjutkan produksi,” kata dia.

Ridwan menyebut, mahalnya harga mesin kapal yang di impor dari luar negeri turut menjadi kendala produksi. Belum lagi pajak impor yang menambah biaya pemesanan mesin.

“Seharusnya tanpa tax masuk di sini barang – barang untuk perlengkapan mesin. Jadi bisa meringankan,” ujarnya.

Aktivitas reparasi pun demikian. Tak luput dari sepi. Dalam sebulan, galangan ini hanya menerima 3 sampai 4 kapal untuk perbaikan. Padahal idealnya, dalam kondisi normal, galangan ini bisa menerima 15 reparasi kapal dalam sebulan.

PT Allvina Prima sudah berdiri selama 20 tahun. Dan kini, harus mencari cara untuk bertahan di tengah kondisi industri yang sedang genting. Ridwan menyebut, salah satu cara perusahaan agar bisa bertahan, adalah dengan mencari pangsa pasar luar negeri.

Ia pun aktif berkeliling dunia, untuk menawarkan maket kapal rancangannya. Dan usaha ini, dirasa cukup berhasil untuk membuat aktivitas galangan tetap berproduksi.

“Kita cari market yang bagus. Yang prospek. Kalau bukan di Indonesia, ya kita ke luar,” sebut Ridwan.

Ia berharap, pemerintah daerah bisa membantu mengatasi kondisi industri galangan kapal yang sedang lesu saat ini. Salah satunya, dengan memberikan pinjaman modal usaha bagi pengusaha galangan kapal.

“Mengenai finance saja. Ada finance, kita bisa jalan. Selama ini kan gak ada (bantuan pemerintah, red),” keluhnya.

Disway mengonfirmasi ke Disperindagkop Kaltim. Binsar Simangunsong Analis Kawasan Industri, mengamini keluhan tersebut. Menurutnya wajar, pengusaha kapal berteriak meminta bantuan kepada pemerintah di tengah kondisi seperti sekarang.

Seharusnya memang, industri galangan kapal bisa mendapat skema kredit yang kompetitif sertan insentif pembiayaan produksi.

“Memang itu harus dilakukan supaya lebih kompetitif industri itu. Begitu juga dengan komponen-komponen lain yang masih kena biaya impor. Harusnya bisa dibebaskan,” terangnya.

Namun ia mengakui, pemerintah baik pusat dan daerah belum melakukan langkah tersebut. Padahal seharusnya, hal itu bisa dilakukan lebih cepat untuk membantu pembangunan industri galangan kapal.

“Persoalan birokrasi kita agak lambat ya. Karena saya birokrasi makanya saya sampaikan itu,” sebutnya.

Yang dilakukan pemerintah, baru sebatas komunikasi dengan Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai (Iperindo). Terkait kebutuhan industri dan keluhan di lapangan. Namun belum ada langkah konkrit dalam mengatasi masalah industri galangan kapal secara riil.

Binsar berharap, ke depan pemerintah baik pusat maupun daerah bisa lebih cepat dan sinergis dalam mengatasi masalah-masalah industri di lapangan. (krv/eny)

Baca Juga:

Kaltim Produksi Kapal SWATH Pertama di Asia Tenggara

 

1 Trackback / Pingback

  1. Kaltim Produksi Kapal SWATH Pertama di Asia Tenggara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*