Perjalanan Menghadiri Haul Guru Sekumpul (1);  Antre di Pelabuhan Feri hingga 1 Km 

Pelabuhan feri Kariangau ramai dipadati rombongan jemaah Haul ke-15 KH Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul, Kamis (27/2). Berdasarkan pantauan tim Disway Kaltim pada pukul 07.30 pagi, antrean kendaraan yang akan menyeberang melalui pelabuhan tersebut, mencapai satu kilometer keluar dari area pelabuhan.

Oleh: Darul Asmawan

RATUSAN kendaraan roda dua dan roda empat telah memenuhi area parkiran pelabuhan. Rombongan yang berasal dari berbagai daerah di Kaltim itu, utamanya yang terlihat dari Berau, Samarinda dan Balikpapan. Mereka berdesakan di loket penjualan tiket.

Komandan Regu (Danru) Pelabuhan Ferry Kariangau, Bayu Apriliant, selaku perwakilan ASDP yang mengoperasikan pelabuhan tersebut mengatakan, kepadatan penumpang telah terjadi sejak, Rabu (26/2) dini hari.

“Peningkatan pengguna jasa pelabuhan terjadi mulai hari Rabu, subuh kemarin sampai hari ini. Bahkan antrean sempat mencapai dua kilometer, kemarin siang,” ucap Danru Bayu Apriliant kepada Disway Kaltim di Kawasan Parkiran Pelabuhan usai memimpin briefing anggotanya, Kamis (27/2).

Kepadatan didominasi oleh rombongan yang melakukan perjalanan untuk menghadiri Haul Abah Guru Sekumpul di Martapura, Kalimantan Selatan. Kendala utamanya, kata dia, saat pagi hari, karena pihaknya juga harus menyeberangkan truk angkutan BBM yang mengantre.

“Karena BBM ini untuk keperluan masyarakat juga di seberang (Kabupaten PPU dan Kabupaten Paser, Red.),” imbuhnya.

Untuk itu, lanjutnya, pihak ASDP menyiapkan satu dermaga khusus untuk truk BBM. Meski demikian, skema itu bisa berubah dengan melihat kondisi dan situasi antrean. Jika antrean dilihat terlalu panjang, Bayu mengaku akan menahan truk BBM hingga beberapa jam.

“Untuk mendahulukan pengguna jasa penyeberangan yang akan menempuh perjalanan jauh ke Banjarmasin,” ungkapnya.

Bayu memperkirakan lonjakan penumpang mencapai 60 persen. Normalnya, kata dia, pengguna jasa penyeberangan di kisaran 100 kendaraan. Sedangkan pada momen Haul Abah Guru Sekumpul ini, yang menyeberang mencapai 500 sampai 600 kendaraan per hari.

“Yang jelas lebih ramai daripada hari raya, karena kan kalau Haul ini yang menyeberang lewat feri bukan cuma warga dari wilayah Balikpapan, tetapi warga dari hampir seluruh wilayah di Kalimantan Timur yang akan menuju Kalimantan Selatan,” paparnya.

Untuk persiapan menghadapi lonjakan ini, kata dia, manajemen pelabuhan telah berkoordinasi dengan semua armada feri yang siap beroperasi.

Namun hingga kemarin, belum ada penambahan armada untuk mengatasi lonjakan antrean penumpang. “Kita tetap mengoperasikan kapal sesuai jadwal, dengan 12 kapal feri yang beroperasi untuk menyeberangkan penumpang. Itu sudah cukup,” kata Bayu.

Aspek keamanan dan keselamatan dari kinerja kapal juga menjadi pertimbangan. Kapal yang telah beroperasi selama enam hari berturut-turut, akan diistirahatkan selama tiga hari. Total, terdapat 18 armada feri, 12 feri beroperasi selama enam hari dan enam armada diistirahatkan secara bergantian. “Jadi, enam kapal keluar, dan enam kapal masuk,” ujar Bayu.

Namun hal itupun tidak kaku. Tetap akan memperhatikan situasi dan kondisi antrean kendaraan. Ketika kapal-kapal bermuatan kecil yang tengah beroperasi dirasa kurang mampu memecah lonjakan antrean pengguna jasa penyeberangan, maka kapal tersebut akan ditukar dengan kapal yang lebih besar “istilahnya itu kita bisa suite“.

Sementara ini masih dua dermaga yang diaktifkan. Jika nanti melonjaknya semakin meningkat lagi, akan diaktifkan satu lagi. Dermaga Pelensengan. Yang biasanya digunakan untuk feri tujuan Sulawesi.

Berbagai strategi itu disiapkan untuk mengurai antrean. Tujuannya agar pengguna jasa penyeberangan merasa nyaman. “Jadi saat datang, kendaraan tidak terlalu lama antre. Karena juga perjalanan mereka kan masih jauh lagi,” terang Bayu.

Mengenai jenis-jenis kendaraan yang diprioritaskan untuk menyeberang terlebih dahulu, Bayu mengatakan, prioritas utama pasti ambulans. Kedua adalah bus. Untuk itu ia mewajibkan kepada setiap armada feri untuk memuat minimal 2-3 bus dalam satu kali penyeberangan. Setelahnya baru kemudian kendaraan umum.

Mengenai penambahan petugas darat untuk mengatur masuknya kendaraan ke Kawasan Pelabuhan, Bayu mengaku hal itu belum diperlukan. “Namun ada beberapa petugas yang sebelumnya bertugas di kantor untuk administrasi, diperbantukan di lapangan,” terangnya.

Hal ini sudah dihadapi tiap tahun. Dirinya yakin mampu menghadapi momen tahunan ini. Berdasarkan analisa Bayu, dari pengalamannya, biasanya lonjakan dimulai pada tiga dan empat hari sebelum hari pelaksanaan Haul  Guru Sekumpul. Dan sehari sebelum pelaksanaan, jumlah penumpang akan kembali normal.

“Tinggal nanti pulangnya, antrean akan berpindah ke Pelabuhan PPU,” pungkas Bayu. (dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*