Perjalanan Menghadiri Haul Guru Sekumpul Ke-15 di Martapura (2); Bermotor dari Berau

Media-media lokal di Banjarmasin memuat pernyataan panitia peringatan wafatnya KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul ke-15 yang memperkirakan akan dihadiri 2 juta jamaah. Jumlah itu berasal dari kelompok pengajian dari dalam dan luar negeri yang telah mengkonfirmasi langsung. Dari Kalimantan Timur, tak sedikit yang datang dengan berombongan. Baik dengan bus, maupun motor.   

 

Oleh: DARUL ASMAWAN, Martapura

Puncak haul (peringatan wafatnya) KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Ijai, atau Guru Sekumpul, akan berlangsung Minggu, 1 Maret 2020 di Martapura Kalimantan Selatan. Namun sejak sepekan sebelumnya, para jamaah dari Kalimantan Timur telah berondong-bondong ke ‘Kota Intan’ itu.

Dalam perjalanan meliput agenda tahunan ini, Disway Kaltim menjumpai para jamaah dari berbagai daerah di Kalimantan Timur. Mulai Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, Bontang, Sangatta hingga dari Kabupaten Berau. Sebagian mereka ada yang menggunakan bus, sebagian mobil pribadi, dan sebagian lagi ada yang menggunakan sepeda motor. Berangkat bersama-sama dalam beberapa rombongan, memboyong anak dan isteri.

Salah satunya Abdul Samad. Warga Samarinda ini berangkat usai salat subuh dengan sepeda motor. Ia berangkat dengan keluarga dan sejumlah teman, namun  tercecer dari rombongan ketika tiba di Kariangau. “Tadi kami berangkat bareng, tapi terpisah karena antrea begini,” kata Abdul Samad, pasrah.

Dia bilang, hal ini sudah biasa dialami jemaah karena banyaknya warga yang mengikuti haul. “Kami janji ketemu di seberang,” kata Abdul Samad setelah berulang kali memencet layar ponsel.

Abdul Samad mengaku rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi menghormati Sang Guru.  Ia menceritakan, tujuan utamanya dalam perjalanan itu, ialah berziarah ke makam orang tuanya di Kabupaten Berabai Kalimantan Selatan, baru kemudian menghadiri Haul Guru Sekumpul. Ia mengatakan almarhum guru sekumpul semasa hidupnya pernah berpesan, bahwa orang tua lah yang mesti diutamakan, ketimbang dirinya. Karena, lanjut Abdul, orang tua adalah rida Allah di dunia.

“Beliau, (Abah Guru Sekumpul) pernah bilang, kamu tidak boleh ziarah ke tempat saya, sebelum kamu ziarahi orang tuamu sendiri,” ujarnya menirukan pesan Guru Sekumpul. Abdul adalah pedagang bakso di Samarinda, ia rutin mengikuti haul setiap tahun, setelah berziarah ke makam orang tuanya.

Ia memaknai Haul Guru Sekumpul sebagai momen berkumpul untuk menjalin ukhuwah islamiah, silaturahmi, kekeluargaan, dan mengutkan kesatuan antar sesama.

“Siapapun yang datang, dari manapun dia, pasti akan merasakan kekeluargaan. Karena keramahan orang Banjar di sana,” katanya. Abah Guru Sekumpul itu, lanjutnya, semasa hidupnya dihabiskan untuk mengajarkan dan menyebarkan agama Islam. Makanya beliau, dinobatkan sebagai wali kutub.

“Hanya ada dua wali kutub di dunia ini. Pertama di Mesir, dan yang kedua adalah Abah Guru Sekumpul,” pungkas Abdul mengakhiri ceritanya.

Masih dalam suasana menunggu antrean, Saiful Islam, jemaah Haul Guru Sekumpul asal Kabupaten Berau, menceritakan motivasinya mengikuti kegiatan tahunan yang disebut sebagai haul terbesar di dunia itu. “Saya datang ke Haulan Abah Guru ini: karena saya cinta sama Guru Sekumpul, saya pernah mondok (sekolah di pondok pesantren) dulu di sana. Saya juga sering baca bukunya dan lihat serta dengar video-video ceramahnya beliau,” jelas Saiful.

Tahun ini, adalah ke-15 kalinya Saiful mengikuti Haul Guru Sekumpul, yang artinya ia tidak pernah absen sekalipun. “Tujuannya adalah, sebagai upaya untuk mencapai ilmu, mengenal Islam lebih dalam lagi, untuk keselamatan dunia dan akhirat. Agar menemukan jalan hidup yang lurus,” tambahnya.

Selain itu, kata dia, ada keberkahan dari berkumpul dan berzikir bersama di momen haul itu, yaitu terbangunnya silaturahmi antar sesama umat. Saiful mulai mengenal Guru Sekumpul, awalnya dari salah satu guru spiritualnya di Samarinda, yakni almarhum Haji Salman Al Banjari.

Dikatakan bahwa ia pernah belajar di Pondok Pesantren Salman Al Banjari Samarinda, dan kemudian berlanjut di Pondok Pesantren Tebu Ireng Banten. “Belajar sama Guru Sekumpul bagus, cara penyampaiannya detail dan jelas. Disamping itu dakwah beliau tulus,” ucap Saiful.

Ia melanjutkan, Abah Guru Sekumpul di kenal di mana-mana, lihat saja, yang datang di haul beliau, bukan hanya dari Indonesia, tapi juga banyak dari luar negeri, ungkapnya. “Semasa hidupnya beliau sangat sosialis, tidak pernah memandang perbedaan suku atau perbedaan apapun, beliau mengajarkan ilmu agama betul-betul tulus,” imbuhnya.

Hal itu yang membuat Saiful meninggalkan toko emas miliknya di Berau. Untuk mencari keridaan dan keberkahan. Ia bergabung bersama rombongan satu bus dan dua mini bus. Sebelumnya kata ia, rombongan jemaah dari berau telah berangkat sejak 22 Februari. Jika di total jemaah Berau yang telah berangkat sekitar 50 mobil pribadi dan tujuh bus.

Ia dan rombongan, berangkat dari Berau pada Rabu (25/2) pagi, tiba di Pelabuhan feri Kariangau, Balikpapan pada Kamis (26/2) pagi, dan akan melanjutkan perjalanan ke Martapura sekitar 16 jam lagi. “Sebagian jemaah di fasilitasi oleh Pemkab Berau, sebagiannya berangakat secara mandiri,”

Jamaah dari Berau, terdiri dari berbagai kalangan, bukan hanya Suku Banjar saja, kata Saiful, melainkan ada Suku Bugis, Jawa dan lain-lain. “Ada semangat tersendiri bagi kami, berangkat ramai-ramai menuju Haul Guru Sekumpul ini. Karena cuma ada setahun sekali,” imbuhnya kemudian berlalu.

Dalam perjalanan menuju Kalimantan Selatan, tim Disway Kaltim bertemu dengan Moh. Nurhariri, di sebuah rest area di Desa Sungai Terik, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser. Masih dalam wilayah Kaltim. Rest area tersebut menyediakan makanan dan buah-buahan gratis untuk para calon jemaah Haul Guru Sekumpul.

Saat ditemui, hari sapaannya, sedang memperbaiki sepeda motornya. “Rantainya kendor, gearnya sudah aus, mau saya kasih minyak (pelumas gear),” katanya. “Bisa tolong tekan situ,”. Ia meminta bantuan untuk membebani bagian depan motornya agar bagian belakang terangkat.

Nurhariri juga jemaah asal Samarinda, tahun ini, ketujuh kalinya ia mengikuti Haul Guru Sekumpul. Ia berangkat bersama isterinya yang sudah ketiga kalinya mengikuti haul.  Saat berinteraksi dengan Hari, Disway Kaltim menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan kepada dua narasumber sebelumnya. “Motivasinya adalah panggilan jiwa,” jawab Hari tegas.

“Alasannya ada di sini (sambil menunjuk ke dadah penulis),” ia bermaksud mengatakan, bahwa hatinyalah yang mendorongnya untuk pergi mengahadiri haul tersebut. “Kalau sudah cinta, apapun akan dilalui, seperti pepatah, tai kucing akan terasa seperti cokelat,” candanya.

Hari mengaku berasal dari Jawa Timur. Dirinya mengenal Guru Sekumpul juga dari seorang guru spiritualnya. “Saya kenal guru sekumpul dari guru saya, guru Askari di Sebulu,” tukasnya. Saat keduanya hendak pergi, sambil berlalu, Istri Hari yang belum sempat diketahui namanya berkata, “Kami datang untuk membersihkan diri (hati).

Mereka yang melakukan perjalanan spiritual itu menempuh jarak yang tidak main-main. Menurut perhitungan tim Disway Kaltim, calon jemaah dari Kabupaten Berau, untuk sampai ke pusat kegiatan haul di Martapura harus menempuh jarak sejauh 1.032 kilometer. Sementara yang dari Sangatta Kutai Timur, menempuh perjalanan sejauh 719 kilometer. Jika dari Samarinda, jarak tempuh sejauh 548 kilometer dan dari Balikpapan, sejauh 436 kilometer. (yos/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*