Cancel Flight hingga Mei

Suasana Bandara Kalimarau, sepi pasca pembatasan penerbangan niaga, Rabu (1/4).

Tanjung Redeb, Disway – Sempat “ngotot” beroperasi, maskapai Wings Air akhirnya menyanggupi menghentikan operasional niaga sementara di Bandara Kalimarau, sesuai kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, mencegah penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Maskapai Lion Air Group, melakukan pembatalan penerbangan atau cancel flight sejak 3 April hingga 15 Mei 2020. Kesepakatan diperoleh, setelah Warga Berau Bersatu melakukan pertemuan dengan manajemen Wings Air Berau di Bandara Kalimarau, Kamis (2/4)).

Koordinator lapangan (Korlap) Masyarakat Berau Bersatu, Fitrial Noor mengatakan, aksi ini merupakan tindak lanjut edaran Bupati Berau Muharram, yang melakukan penutupan dan pembatasan akses transportasi, khususnya penumpang. Kebijakan itu diberlakukan mulai 1-14 April, sebagai langkah memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Namun, kata Pipit, maskapai Wings Air sempat bandel dan tetap melakukan aktivitas penerbangan, dengan dalil masih menunggu keputusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Padahal, Batik Air yang juga Lion Air Group menyatakan sikap memenuhi kebijakan pemerintah.

“Jadi alasan menunggu keputusan Kemenhub tidak relevan, karena maskapai yang satu grup dengan Wings Air menyanggupi. Logikanya kan seperti itu,” katanya kepada Disway Berau, Kamis (2/4).

Menurutnya, sikap yang ditunjukkan Wings Air merupakan bentuk tidak menghargai kebijakan pemerintah daerah, hanya memikirkan Business to Business.

Ihwalnya, lanjut Pipit, maskapai Wings Air hanya bersedia mengurangi frekuensi penerbangan dari empat menjadi satu kali penerbangan per hari. Namun, pihaknya tetap mendesak untuk memberhentikan sementara semua aktivitas penerbangan.

“Kami mendesak untuk tidak beroperasi hingga batas waktu yang ditentukan pemerintah. Karena menghindari kecemburuan sosial maskapai yang lebih dulu mengikuti kebijakan pemerintah,” terangnya.

“Setelah kami menyampaikan aspirasi masyarakat, akhirnya kemarin (2/4), maskapai Lion Air Grup meyanggupi kebijakan pemerintah,” tambahnya.

Kasi Teknik dan Operasi Bandara Kalimarau, Budi Surwanto mengatakan, jumlah penumpang di Bandara Kalimarau mengalami penurunan sejak merebaknya COVID-19 di Indonesia. “Terkait pembatasan pemerintah daerah, yang dibatasin sifatnya penerbangan niaga hingga 14 April. Sementara, pengangkutan kargo atau emergency masih dilayani dan diprioritaskan,” katanya.
Dari lima operator penerbangan yang beroperasi di Bandara Kalimarau, empat di antaranya sudah menyatakan cancel flight sesuai edaran Pemkab Berau, yakni Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Batik Air dan Susi Air.

“Sementara untuk Wings Air sampai Kamis (2/4), masih ada satu penerbang. Tapi mulai besok, mereka akan mematuhi edaran pemerintah,” tuturnya.

Sementara, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, telah berkoordinasi dan akan mematuhi kebijakan Pemkab Berau.

“Mulai Jumat (3/4), kami menutup sementara operasional di Bandara Kalimarau,” sebutnya.

Pihaknya telah memberikan informasi penundaan penerbangan rute yang dilayani Batik Air dan Wings Air, kepada seluruh calon penumpang sesuai perkembangan terkini.

“Kami akan menfasilitasi calon penumpang yang telah melakukan pembelian tiket (issued ticket), dengan mengembalikan dana (refund) menurut ketentuan yang berlaku,” tandasnya.

Darat Mulai Ditutup

Setelah sebelumnya hanya membangun posko di Kilometer 15 Kecamatan Gunung Tabur, Kamis (2/4) pagi, tim gabungan kembali memindahkan posko ke perbatasan Berau-Bulungan. Guna mencegah aktivitas penumpang.

Bupati Berau Muharram mengatakan, pemindahan posko pemantauan di perbatasan karena posko yang saat ini berada dinilai kurang efektif. Sebab petugas yang berjaga tidak dapat melakukan tutup total, akibat masih berada wilayah Kabupaten Berau.

“Posko tersebut dijaga dan didampingi oleh pihak Kecamatan Gunung Tabur, Polsek Gunung Tabur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tim medis dari Dinas Kesehatan, beserta beberapa instansi terkait,” terangnya.

“Tapi saya sudah minta posko dipindah ke perbatasan, karena yang lewat ternyata sebagian besar warga Berau, juga jadi kurang efektif. Jadi saya minta pindah di perbatasan dan langsung tutup total. Angkutan penumpang tidak boleh masuk kecuali kebutuhan logistik,” tegasnya.

Lanjut Muharram, pembangunan posko sesuai dengan edaran yang diterbitkan terkait pembatasan aktivitas lalu lintas udara, darat dan laut. Dari sisi darat perbatasan Berau-Bulungan, serta perbatasan Berau-Kutim menjadi prioritas pengawasan petugas guna mencegah virus corona masuk ke Bumi Batiwakkal.

“Apalagi saat ini ada warga Berau yang menurut hasil rapid test positif meski belum sepenuhnya pasti. Tetapi kami meningkatkan kewaspadaan dini minimal 14 hari kedepan menutup seluruh jalur transportasi darat dari dan ke Berau,” ujarnya.

Meski hingga saat ini, Kabupaten Berau masih dalam kategori aman terhadap wabah virus corona. Belum ada satu pun warga Berau atau yang berdomisili di wilayah ini yang dinyatakan positif terinfeksi. Untuk melindungi masyarakat Berau dari infeksi virus mematikan ini, Pemkab Berau bersama TNI dan Polri, akhirnya sepakat untuk menutup sementara akses dari dan menuju Kabupaten Berau selama dua pekan.

WNA Dilarang Masuk

Untuk meningkatkan upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di wilayah Indonesia perlu pelarangan sementara orang asing memasuki wilayah Negara Republik Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan terbitnya Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2020.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Tanjung Redeb, Muhammad Setiawan mengatakan, dari peraturan tersebut menetapkan bahwa mulai, Kamis (2/4) tidak ada aktivitas Warga Negara Asing (WNA) yang datang dan ataupun pulang ke negaranya.

Dijelaskannya, dalam Permenhumham itu, tegas dikatakan orang asing pemegang izin tinggal terbatas atau izin tinggal tetap yang telah berakhir dan/atau tidak dapat diperpanjang, dilakukan penangguhan dengan diberikan izin tinggal keadaan terpaksa secara otomatis tanpa mengajukan permohonan ke Kantor Imigrasi.

“Itu tertuang di pasal 5 ayat 1,” katanya kepada Disway Berau, Kamis (2/3).

Sementara itu, di Kabupaten Berau ada sekira 60 WNA yang terdaftar. Dari keseluruhannya, mayoritas berasal dari Malaysia dan India. Sebagian WNA tersebut bekerja di perkebunan kelapa sawit.“Kami ada data berapa jumlah WNA di sini,” ujarnya.

Berdasarkan data, ada satu WNA asal Tiongkok yang belum kembali ke Berau sejak keberangkatanya Imlek, Februari lalu. “WNA ini pemegang Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS). Ada kemungkinan tidak bisa kembali karena beberapa negara transit telah melakukan lockdown,” ungkapnya. (*/jun/zuh/fst/app)






Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*