Mereka yang Sembuh dari COVID-19

Lima pasien COVID-19 di Kaltim sudah dinyatakan negatif. Tiga orang di Balikpapan, satu di antaranya di Bontang dan satu lagi pasien di Kukar. Namun sebagian dari mereka diminta untuk menjalani observasi selama sepakan. Agar benar-benar steril dari coronavirus desease.

———————

ARNIWATI perempuan tangguh. Padahal dua pekan lalu mentalnya terpukul. Jadi pasien positif COVID- 19 satu-satunya di Bontang. Kepalanya tetap dingin. Yakin penyakitnya segera sembuh. Betul saja. Sabtu (4/4) ia divonis sembuh. Tak ada lagi virus COVID-19 di tubuhnya. Daya tahan tubuhnya kuat. Mampu melawan virus mematikan itu.

Sehari sebelumnya, tiga pasien COVID-19 di Balikpapan yang sudah negatif. Antara lain adalah Wahid Herlambang yang sebelumnya diulas media ini. Kemudian ada Rubiati 50 tahun. Keduanya masuk klaster Bogor. Keduanya ikut acara seminar tanpa riba di kota hujan itu.

“Saya percaya bisa sembuh,” kenang Arniwati kepada Disway Kaltim saat ditanya, Minggu (5/4) siang.

Ia bercerita, pada 11 Maret lalu ia bertolak ke Jakarta, menghadiri pertemuan bimbingan teknis KPU se-Indonesia. Ia dan Komisioner KPU, Antoni Lamini menghadiri pertemuan. Ratusan orang berkumpul dalam satu ruangan besar. Ketika itu tak khawatir corona bisa menular. “Kami duduk per kelompok,” katanya.

Arni tak sebangku dengam pasien COVID-19 asal Kutai Kartanegara. Berbeda kelompok. Tapi satu ruangan yang sama. Hanya sebentar bersama-sama. Lalu berbagi kelompok masing-masing. Selepas bimbingan, Arni dan Antoni kembali ke Bontang. Naik pesawat Batik Air menuju Balikpapan.

Tiba di Bontang 13 Maret, kemudian tetap bekerja seperti sedia kala. Arni tak merasakan gejala aneh. Tak tahu ada virus menumpang di badanya. Hampir sepekan beraktivitas di kantor. Berinteraksi dengan beberapa orang dan sempat mengunjungi kedai dan warung makan.

Pada 20 Maret ia diperiksa tim medis. Dua kali di test swab. Sebelum dinyatakan positif COVID-19. Terkejut. Sedih. Semua jadi satu. “Shock pasti, tapi harus ke rumah sakit untuk isolasi,” ungkapnya.

Di ruang isolasi ia berdua. Sekamar dengan pasien corona asal Kutai Timur dari klaster anti riba, Bogor. Ruang isolasi cukup luas. Berkuran 4×4 meter persegi. Ada televisi, lengkap dengan ventilator dan layar monitor medis.

Hari-hari pertama di kamar isolasi paling berat. Pikirannya campur aduk. Sedih. Masih tak percaya positif corona. “Iya nangis, tapi tetap disemangati keluarga,” ucapnya.

Alumnus Universitas Hasanuddin ini berusaha tenang. Ia menjaga kepalanya tetap berpikir baik. Keluarga memotivasi. Meyakinkan dirinya untuk tetap tabah dan kuat. Terlebih petugas medis, perawat dan dokter selalu menyemangati. Pikirannya berhenti bergejolak. Lebih menerima situasi yang dialaminya, tanpa ragu. Pasti akan sembuh. “Teman sekamar juga sering beri motivasi,” katanya.

Selama di ruang isolasi tak ada gejala klinis yang ia alami, seperti batuk, demam atau sesak nafas. Tapi antibiotik tetap ia konsumsi. Perawat memasang infus di tangannya. “Tiap pagi olahraga ringan, gerak-gerak dikit lah, karena ada infus” ungkapnya.

Mindset tetap sehat dijaga. Percaya akan sembuh dari penyakit.  Otak didoktrin harus sehat, sehingga tubuh merespons positif juga. “Harus tetap semangat, biar kuat,” ungkapnya.

Pengalaman di ruang isolasi sangat memberi kesan mendalam. Ia berpesan,  jaga diri, jaga kebersihan hindari keramaian hingga pandemi berakhir. “Karena kalau diisolasi (di rumah sakit) itu enggak nyaman,” pungkasnya.

YUYUN

Sama halnya dengan Yuyun Nurhayati. Wajah semringah tampak ketika hasil pemeriksaan dirinya dinyatakan negative. Sembuh dari coronavirus disease. Hasrat dirinya untuk segera berkumpul dengan keluarga kecilnya kian terwujud.

Yuyun sama-sama dengan Arniwati. Sama-sama klaster KPU. Ia harus menahan rindu selama 16 hari. Ketika dirinya divonis terkonfirmasi positif COVID-19. Virus corona jenis baru yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Dan menjalani isolasi di bawah pantauan tim medis RSUD AM Parikesit, Kukar.

Alhamdulillah bersyukur karena diberi kesehatan, senang ketemu keluarga kembali,” ucapnya bahagia.

Selama 16 hari masa isolasi, Yuyun hanya bisa mengobati rasa rindunya dengan cara berswapandang kepada suami dan ketiga anaknya. Bahkan suatu ketika dirinya hanya bisa memandang foto kebersamaan bersama keluarga.

“Kita kan video call sama mereka, minta dikirimi makanan (sama suami), sampai posting foto lama untuk melepas rindu dengan keluarga,” ujarnya dengan suara bergetar.

Dukungan pun terus mengalir kepada salah satu Komisioner KPU Kukar ini. Yuyun mengatakan, jika suaminya sangat rajin membuatkan jamu khusus untuknya setiap hari. Tak terkecuali teman-teman dan sahabatnya hingga hari dirinya diperbolehkan pulang.

“Suami bahagia. Begitu sampai langsung disemprot di luar rumah pakai disinfektan. Siapa tahu masih ada yang nempel-nempel kayak gitu,” kelakar Yuyun.

Dirinya bercerita selama penanganan isolasi, pihak rumah sakit dokter hingga perawat sangat serius merawat dirinya dan pasien lainnya. Memberikan motivasi agar tetap semangat.

Yuyun pun mengimbangi dengan terus berusaha menerapkan anjuran dari dokter. Seperti menjaga kebersihan badan, meminum obat yang diberikan. Serta memakan makanan yang membantu proses penyembuhan.

Untuk mengisi waktu luangnya, Yuyun hanya bisa membuat dirinya tetap tenang dan bahagia. Yakni dengan terus berdoa, mengerjakan amalan-amalan dari guru maupun ustaz. Semata-mata memohon kesembuhan. Sesekali dirinya juga memanjakan diri dengan berselancar di dunia maya, untuk sekedar memperoleh informasi.

“Harus bisa mengontrol diri, karena saat perasaan sedang naik turun, membuat imun kita juga semakin turun,” jelas Yuyun.

Begitupun dengan suami Yuyun, Sidig. Dirinya sangat bersyukur jika istrinya telah dinyatakan sembuh 100 persen. Hari yang memang telah ditunggunya sejak lama. “Happy ketemu dan kumpul keluarga ya kan,” ujar Sidig penuh bahagia.

Sidig tak henti-hentinya mengucapkan rasa terima kasihnya untuk para tim medis yang telah merawat istrinya selama 16 hari ini. Dan juga seluruh pasien positif, ODP dan PDP selain istrinya. Dirinya mendoakan seluruh tim medis agar selalu diberikan kesehatan dan kesabaran. Karena rela jauh dan meninggalkan keluarga demi berjuang di garda terdepan untuk COVID-19. “Jangan sampai di Kukar ada lagi lah,” kata Sidig.

“Remaja-remaja, bapak, ibu yang masih belum patuh, agar tidak keluar rumah apabila tidak mendesak,” lanjut Sidig.

Sementara itu, Ketua KPU Kukar Erlyando Saputra menyambut baik kabar jika rekannya tersebut telah sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah. Dirinya menyebut ini buah hasil kerja keras semua pihak. “Yang pasti kita bersyukur bahwa rekan kami (Yuyun) telah dinyatakan sembuh dari paparan COVID-19,” jelas Erlyando.

Terkait aktivitas Yuyun di KPU Kukar, Erlyando hanya menyarankan agar Yuyun tetap fokus kepada masa pemulihannya. Lantaran KPU Kukar saat ini menjalankan SOP dari pemerintah untuk melakukan pekerjaan dari rumah (work from home).

“Kecuali untuk hal-hal yang urgent yang memang harus membutuhkan kehadiran di kantor,” pungkas Erlyando.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Diskes) Kukar. Dari 518 ODP di Kukar tersisa 428 ODP yang masih menjalani isolasi. Untuk PDP sebanyak 15 orang yang proses menjalani isolasi.  Dari 18 PDP. Serta tinggal 1 pasien positif yang masih menjalani perawatan dari total 2 positif di Kukar.

Sementara untuk pelajar dan mahasiswa sudah ada sebanyak 363 orang yang diinapkan di 8 tempat. Dan 56 orang yang menyatakan siap melakukan isolasi mandiri di rumahnya masing-masing. (mrf/wal/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*