Rubiati Jalani Pemulihan setelah Sembuh dari Corona

Rubiati saat melayani pertanyaan wartawan melalui sistem daring. Ibu empat anak ini masuk klaster Bogor. (Michael/ disway kaltim).

============

 

SATU lagi pasien positif corona yang sudah mulai pulih unjuk suara. Mau membuka identitasnya dan mau diwawancara media. Dialah Rubiati (50), pasien positif ketiga di Balikpapan dengan kode BPP-3.

Rubiati dinyatakan positif terjangkit coronavirus baru atau COVID- 19 usai mengikuti seminar anti riba di Bogor, beberapa waktu lalu. Dia dirawat diruang isolasi RSUD Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan, sejak 18 Maret.

Saat ini, ibu empat anak ini sudah keluar dari ruang isolasi pada Jumat (3/4). Kini ia menjalankan karantina pemulihan di Home Stay Sylva Lestari di Balikpapan. Bersama rekannya yang lain. Menggunakan sistem daring, Rubiati bercerita pengalamannya selama di ruang isolasi.

Saat ini, dia sudah dapat tersenyum lebar. Memang sejak awal dia dinyatakan positif, tidak ada keluhan apapun yang ia rasakan. Tapi, awalnya dirinya sempat kaget ketika harus masuk ruang isolasi. Dibenaknya saat itu tidak ada yang lain. Dia hanya memikirkan nasib keempat anaknya saja.

Wajar, naluri seorang ibu. Ditambah, suaminya sekarang sedang bekerja di Arab Saudi. Tidak bisa kembali ke Tanah Air karena kondisi di negara tersebut juga sedang lockdown.

“Sementara anak saya ada 4. Paling tua usia 22 tahun dan paling muda 12 tahun,” katanya, Senin (6/4).

Awal terkonfirmasi positif terjangkit COVID-19, sempat menjatuhkan mentalnya. Terlebih kepada keempat buah hatinya. Berbagai tekanan pun sering menghampiri keluarga kecilnya ini. Bahkan, lewat depan rumahnya, banyak masyarakat yang takut.

“Di awal saya down. Stress. Warga sudah parno duluan. Bahkan beredar informasi, kawasan saya tinggal jadi zona merah. Ada juga informasi rumah saya sudah tak bisa dimasuki. Jatuhnya ke mental anak-anak saya. Tapi, saya akui, mental anak-anak saya tangguh,” jelasnya.

Kondisi tersebut hanya bertahan dua hari selama dia menjalankan isolasi. “Saya motivasi diri sendiri. Saya tak mau mati sebagai pasien corona. Saya kuatkan diri. Baca buku, baca Al-Quran. Karena, tidak ada gunanya ternyata kalau harus terus merenung,” ujarnya.

Ia pun memulai untuk melakukan banyak kegiatan walaupun berada di ruang isolasi. Bermodalkan YouTube. “Saya senam sendiri di kamar. Bahkan, kadang saya bantu suster ngepel di kamar saya. Kan kasian mereka ngepel dengan baju tertutup,” terangnya.

“Saya yakinkan diri, bahwa ini hanya ujian. Tuhan tak akan beri ujian kepada hambanya yang tak mampu menghadapi. Jadi, saya berpikir, bahwa saya dipilih untuk hadapi ujian ini. Kalau saya lolos, maka saya naik kelas. Itu yang saya tanamkan,” tegasnya.

Ia mengaku, sampai sekarang, dirinya sudah melakukan empat kali tes swab. Dua pertama dinyatakan positif. Selanjutnya, ia dinyatakan negatif. Ia pun telah mendapat surat dari Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan.

Selama isolasi pun ia mengakui tergolong pasien yang banyak makan. Jatah makan dari rumah sakit sendiri tiga kali makan berat dan dua kali snek. Itupun, ia memesan kembali menggunakan aplikasi Go Food.

Ia juga menjelaskan seminar anti riba yang diikuti di Bogor itu diikuti oleh komunitas pengusaha dari masyarakat anti riba. Jadi, mereka diajarkan untuk menjalankan usaha agar tidak mengandalkan utang dan riba. “Jadi itu bagaimana bisnis yang berjalan sesuai dengan syariat Islam,” bebernya.

Seminar ini pun memiliki beberapa jenjang. Yaitu Seminar Mengembangkan Harta Tanpa Riba (SMHTR). Jenjang tersebut untuk membentuk mental. Jadi pondasinya dulu yang harus dikuatkan. Jenjang selanjutnya yaitu Platform Bisnis Tanpa Riba (PBTR).

“Kalau PBTR itu pengembanganya. Tingkat lebih tingginya. Kalau yang di Bogor kemarin, itu yang PBTR yang saya ikuti. Jadi pengusaha semua. Saya pun ada usaha. Saya pun baru gabung. Awalnya, saya hanya nonton di YouTube mengenai seminar ini,” terangnya.

Ia bergabung dengan komunitas ini terhitung masih sangat baru. Yaitu diawal Januari 2020 lalu. Disitulah dia bersama suaminya mengikuti komunitas ini. Walaupun, sebenarnya, sudah setahun terakhir ia tertarik mengikuti komunitas ini.

“Cuman saya belum ada waktu untuk mengikuti kegiatan ini. Karena, untuk tahap pertama saja, harus mengikuti seminar secara full selama dua hari. Kalau yang di Bogor kemarin empat hari. Nah itu terkadang saya enggak ada waktunya. Saya fokus besarkan usaha saya,” ungkapnya.

Ia mengaku dengan kejadian ini tidak ada penolakan sedikitpun dari sang suami. Pasalnya, sebelum suaminya berangkat ke Arab Saudi, suaminya telah ikut bergabung dalam komunitas masyarakat anti riba ini.

“Untuk SMHTR, saya bersama suami. Karena dia lagi off. Sekarang saya sendiri karena dia masih kerja,” celetuknya sambil tersenyum.

Tapi, menurut dia, kejadian ini bukan karena mengikuti seminar. Hanya semata-mata karena ujian yang diberikan oleh yang Maha Kuasa. “Ini untuk manusia yang baru hijrah. Saya pun, mengikuti seminar tingkat PBTR, sudah minta izin sama suami saya,” katanya.

Dukungan penuh memang diberikan oleh sang suami. Bahkan, suaminya selalu mendukung Rubiati saat dalam kondisi seperti ini. Ketika dirinya pindah dari ruang isolasi rumah sakit ke home stay, sang suami sempat mengeluarkan kalimat candaan. “Mau liburan ke hotel kah bun,” pungkasnya. (mic/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*