Perawatan Kilang Selesai Akhir Mei, Jumlah Produksi Tunggu Instruksi Pemerintah 

Masa perawatan rutin kilang RU V Balikpapan akan selesai akhir Mei nanti. Pertamina masih menunggu langkah selanjutnya terkait produksi BBM. Mengingat konsumsi yang belum kembali normal. (Andi M Hafizh/Disway Kaltim)

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Hampir sebulan sudah kilang Refinery Unit V Balikpapan melakukan turn around atau perawatan rutin. Seiring dengan penurunan konsumsi bahan bakar minyak akibat pandemi COVID-19.

Setelah masa perawatan berakhir akhir Mei nanti, kilang siap beroperasi normal. Region Manager Communication & CSR Kalimantan Roberth MV Dumatuban mengungkapkan, melalui proses pemeliharaan tersebut dilakukan pergantian suku cadang yang usang untuk Unit Kilang V (Refinery Unit/RU V).

“Begitu mulai running, kita akan lihat lagi apakah kemudian sudah bisa mulai berproduksi secara normal atau cukup untuk maintenance kilang,” kata Robert MV Dumatuban, Rabu (13/5).

Selama sebulan RU V tidak beroperasi, Pertamina menabung stok yang ada. Di sisi lain permintaan terus ada meski tidak banyak. Di Balikpapan saja, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) turun 40 persen dari hari normal.

Sementara sejak Maret lalu, permintaan bensin domestik terus mengalami penurunan rata-rata 17 persen. Diesel turun rata-rata 8 persen dan avtur turun 45 persen.

Sejalan dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), permintaan BBM di kota-kota besar tercatat mengalami penurunan di atas 50 persen. Tertinggi adalah Jakarta dan Bandung yang turun hampir 60 persen.

Secara nasional penurunan permintaan BBM mencapai 35 persen dibandingkan dengan rata-rata Januari hingga Februari. Selain penurunan di BBM retail, penurunan permintaan juga terjadi untuk konsumen industri mengingat banyak yang berhenti beroperasi.

Robert mengatakan, apabila kilang Balikpapan nantinya beroperasi maka sesuai rencana awal Pertamina adalah mengembalikan stok yang berkurang. Apakah akan beroperasi normal di pertengahan tahun atau tidak, menunggu perkembangan COVID-19.

“Jadi kita akan lihat dulu. Yang penting adalah saat kemudian pemerintah memerintahkan ‘oke distribusi BBM kembali normal,” tandas Roberth.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Bimo Epyanto mengatakan, bahwa pertumbuhan di Kota Minyak diproyeksikan pada 2020 hanya mencapai 1,8 persen hingga 2,3 persen. Ini apabila diberlakukan pengetatan sosial selama 3 bulan.

Jika pengetatan berlangsung selama sebulan, produk domestik regional bruto (PDRB) bisa lebih baik. Kisarannya 3,8 persen hingga 4,3 persen.

Apabila pemerintah Balikpapan menetapkan PSBB, PDRB diperkirakan 3,4 persen sampai 3,9 persen. Ini untuk status selama sebulan.

PSBB dalam rentan waktu 3 bulan bisa lebih buruk lagi. Pertumbuhan diperkirakan anjlok di 0,3 persen sampai 0,8 persen.

“Ini skenario terburuk bagaimana dampak dari PSBB. Angka itu muncul kalau tidak ada stimulus penanganan virus corona berkepanjangan dan belum menunjukkan perbaikan. Ditambah tidak berproduksinya kilang Pertamina,” ujarnya.

Sementara itu, hingga kini Pemerintah Kota Balikpapan belum menerapkan kebijakan PSBB karena proses kajian terus dilakukan. Namun demikian, pemerintah masih menerapkan pengetatan sosial dengan memberlakukan beberapa akses jalan yang ditutup sesuai dengan jam yang telah ditentukan. (fey/eny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*