315 Sopir Truk Terancam Menganggur, Imbas Penutupan Tambang Pasir di Kanaan

Petugas gabungan dari TNI/Polri memasang spanduk larangan aktivitas tambang di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat. (ICWAL/DISWAY KALTIM)

===============

 

Bontang, DiswayKaltim.com – Dampak penutupan tambang pasir di jalan Ir Soekarno – Hatta (eks Jalan Flores), Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, berimbas luas. Persoalan lingkungan kini berhadapan dengan masalah sosial baru. Ada 312 sopir muatan material galian di sana. Mereka bergantung hidup dari angkutan pasir. Kini mereka terancam menganggur. Lahan galian ditutup. Tak ada aktivitas galian lagi di sana.

“Kami tutup karena melanggar Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW),” ujar Kapolres Bontang AKBP Boykes Karel Wattimena disela-sela penutupan, Rabu (13/5).

Persatuan Leveransi Bahan Bangunan (PLBB) bersuara. Organisasi yang mewadahi para sopir truk ini mengeluh. Penutupan galian akan berimbas ke keluarga mereka. Ada ribuan jiwa akan terganggu akibat penutupan tambang pasir. Tak ada pilihan lain. Mereka tetap patuh terhadap pemerintah.

Ketua PLBB, Ical-sapaan akrabnya menyadari aktivitas galian di sana tak berizin. Ilegal. Tapi praktik muatan galian di jalan Flores sudah berlangsung menahun. PLBB saja terbentuk 1997. Aktivitas galian disana lebih lama dari serikat sopir yang dibentuk. “Sejak Kota Bontang belum menjadi Kota Madya sudah ada memang,” ungkap Ical.

Pendapatan dari muatan pasir cukup untuk biaya hari-hari. Untuk satu truk muatan penuh dibayar Rp 30 ribu. Sedangkan harga jual ke konsumen Rp 150 ribu. Biaya itu sudah termasuk ongkos solar dan letih. Aktivitas galian C di jalan Flores sebenarnya sudah ditegur. Bahkan sempat dihentikan medio 2019 lalu. Tapi tetap berjalan. Kebutuhan pasir di Bontang masih tinggi saat itu.

“Lagi musimnya proyek pas itu,” ujar salah satu sopir saat ditemui di Sekretariat PLBB di Kelurahan Tanjung Laut.

Ketua Forum Komunikasi Pengusaha Lokal Bontang, Frans Micha membenarkan penutupan akan berimbas luas. Aktivitas konstruksi di Bontang akan terhambat. Sebab, seluruh pasokan material pasir bergantung dari galian C di jalan Flores. “Pasti akan terganggu,” ujar Frans saat dikonfirmasi, Kamis (14/5) petang.

Penutupan tambang pasir dinilai keliru. Pandemi COVID-19 masih membayangi. Banyak pengangguran baru. Daya beli rendah. Perusahaan banyak merumahkan pekerjanya. Penutupan tambang pasir pasti menambah pengangguran. Tak hanya sopir saja, buruh bangunan, toko bangunan. Sektor konstruksi akan terdampak.
Kebijakan menutup tambang memang dilematis. Dari kaca mata legalitas memang pelanggaran. Tapi tak hanya itu saja. Ada dampak sosial lainnya. “Pemerintah harus pertimbangkan semuanya,” tandasnya.

Pemerintah harus mengevaluasi lagi penutupan galian. Saat seperti sekarang, penanganan ekonomi lebih diutamakan. Ketimbang penegakan kebijakan. Saat kampanye gerakan di rumah saja ramai disuarakan. Kondisi ekonomi tengah resesi. Pelonggaran kebijakan harusnya diambil. Untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah. Supaya jumlah tenaga kerja menganggur tak terus bertambah. (wal/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*