Melihat Problematika Pendidikan di Tengah Pandemi COVID-19

Hetifah Sjaifudian.

===========

 

Samarinda, DiswayKaltim.com –  Sejak pandemi COVID-19 mewabah ke Indonesia, aktivitas pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dialihkan ke rumah masing-masing. Sistem pembelajaran yang biasanya dilakukan secara langsung antar pengajar dan peserta didik, kini beralih ke sistem dalam jaringan (daring).

Hal ini menjadi perhatian Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X DPR RI. Ia memang dikenal aktif dalam mendorong peningkatan pendidikan. Terutama di daerah pemilihannya, Kaltim. “Pendidikan adalah dasar pembentuk SDM unggul sebagai kunci masa depan,” kata Hetifah dalam diskusi online yang digelar Dialogika, Rabu (13/5).

Lebih lanjut Hetifah menjelaskan, karakter Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Di antaranya adalah berbudi pekerti luhur, berkarakter kuat, menguasai keterampilan, dan menguasai ilmu pengetahuan. Dengan SDM unggul akan menciptakan suatu  bangsa yang maju. Dan dapat menghadapi persaingan global.

Beberapa kebijakan pemerintah di bidang pendidikan pun menyesuaikan dengan keadaan selama masa pandemi COVID 19. Di antaranya, Ujian Nasional dibatalkan. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah-sekolah. Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) ditunda. Dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimaksimalkan secara daring.

Walau pun diakui Hetifah, terjadi beberapa permasalahan selama proses pembelajaran daring, seperti akses internet yang tidak stabil di beberapa daerah. Mahalnya biaya kuota, beban tugas yang tidak proposional. Kurangnya pemahaman dan kesiapan tenaga pengajar dengan metode pembelajaran jarak jauh. Serta, kesulitan orang tua dalam mendampingi anak-anaknya belajar di rumah.

Hetifah pun berusaha untuk menjaring aspirasi dari masyarakat terkait keluhan-keluhan tersebut. Salah satunya dengan aktif mengikuti diskusi daring seperti ini. Ia juga menyampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menyiapkan relokasi anggaran untuk program-program terkait penanggulangan COVID-19. Di antaranya untuk pencegahan penyebaran di sekolah, program mahasiswa relawan COVID-19, dan persiapan RS pendidikan sebagai tempat isolasi.

Dalam kapasitasnya sebagai legislatif, ia juga mendorong Kemendikbud untuk memudahkan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sesuai keadaan sekolah di saat pandemi. “Termasuk subsidi kuota, gaji guru dan lain-lain,” tandasnya.

Hetifah pun berbagi tips pembelajaran online di rumah selama pandemi COVID-19. Pertama, pembelajaran tidak perlu mengejar ketuntasan kurikulum. Tetapi lebih difokuskan kepada pembelajaran kecakapan hidup yang lebih bermakna dan bersifat kontekstual.

Kedua, Hetifah menyebut sebaiknya ada mekanisme pemberian feedback berkala dari siswa kepada guru dan sebaliknya. Dalam proses pembelajaran. Hal ini, kata dia, agar kedua belah pihak bisa saling mengerti kondisi masing-masing. Serta mendapat masukan untuk kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif. “Kemudian juga, variasikan pembelajaran jarak jauh. Baik daring dan luring (luar jaringan, Red). Sehingga peserta didik tidak hanya merangkum dan mengerjakan soal setiap hari,” terang politisi partai Golkar ini.

Terpenting, jaga komunikasi antara siswa dan guru. Serta dosen dan mahasiswa melalui berbagai kanal yang tersedia. (krv/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*