Terdampak COVID-19, Taufik: Tinggal di Rumah Besar Pun Minta Sembako

Taufik Muhammad yang mengadakan aksi sosial untuk warga terdampak COVID-19 kemudian diunggah di akun medsosnya. Ia mengaku tak pilih-pilih kasih bantuan. (Foto: ryan/disway kaltim)

——————————–

Balikpapan, DiswayKaltim.com – Wabah pandemi telah menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk saling peduli. Tak terkecuali Taufik Muhammad. Warga Sepinggan, Balikpapan Selatan, yang mulai dikenal orang setelah aksi solidaritasnya terpantau melalui akun media sosial instagram pribadinya.

Tidak main-main, pria berusia 27 tahun itu telah membagikan lebih dari 1 ton beras, sekitar 30 ribu masker kain gratis, dan menyalurkan donasi berupa uang dan barang sembako, yang dia terima dari berbagai kalangan. Donasi itu dititipkan melalui dirinya. “Awalnya dari dana pribadi perusahaan kita,” ujarnya, saat ditemui, Minggu (17/5) kemarin.

Kaka Upik, sapaan akrabnya, mengakui selama ini aksinya berjalan secara spontan demi kemanusiaan. Dan penerima bantuannya juga tersebar secara acak di sejumlah lokasi. “Tapi paling banyak warga sekitar Sepinggan,” ungkapnya.

Upik sendiri tidak memiliki data akurat warga terdampak. Sebagian dari hasil observasinya sendiri, dan sebagian lagi dari hasil laporan tim kecil yang dibentuknya bersama rekan-rekannya. Sebagian lagi dari pesan-pesan singkat di kolom komentar akun media sosial pribadinya. “Ada ratusan paket bantuan yang sudah kita bagi,” imbuhnya.

Ia bergerak menyalurkan bantuan tanpa data-data yang jelas mengenai siapa penerima bantuannya. Sehingga tak jarang ia temui orang-orang yang dinilai berkecukupan namun tetap meminta bantuannya. Ia mengaku tidak memiliki kriteria khusus penerima bantuan. Karena menurutnya, semua orang sudah terdampak. “Ada orang yang tinggal di rumah besar tapi tetap minta bantuan,” ungkapnya.

Pengalamannya memberi gambaran bahwa semua warga telah terdampak. Ia mencontohkan, seseorang warga pemilik rumah megah pun belum tentu saat ini berkecukupan secara materi, karena bisa saja kepala keluarganya telah dirumahkan dan tidak memiliki penghasilan. “Ya mau nggak mau kita tetap bantu,”.

Gambaran itu sedikit banyak menggambarkan apa yang terjadi pada proses penyaluran bantuan di Balikpapan. Dari pengalaman Upik, bisa dilihat bahwa hampir seluruh warga Balikpapan menginginkan bantuan yang sama.
Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi telah memutuskan. Khusus bantuan dari program jaring pengaman sosial yang menggunakan APBD Balikpapan, akan didistribusikan kepada sekitar 70 ribu Kepala Keluarga (KK), atau mencakup 30 persen jumlah total KK di Balikpapan.

Untuk memenuhi bansos itu, pemkot telah menyisihkan sekitar Rp 70 miliar dari total anggaran APBD khusus percepatan penanganan COVID-19, yakni sekitar Rp 136 miliar.

Memang proses pendataan telah selesai pada 25 April, lalu. Data itu diterima para RT di seluruh kecamatan di Balikpapan. Meski tak menetapkan kriteria penerima bansos, namun pihaknya tetap melakukan proses verifikasi melalui Dinas Sosial dan melibatkan Disdukcapil.

Hasilnya, ia mengantongi 66.208 KK, dari total sekitar 80.176 KK yang memohon untuk mendapatkan bantuan. Data ini tercatat per tanggal 4 Mei. Artinya ada 13.968 KK yang tidak terverifikasi. Jumlah itu kembali dilanjutkan dengan proses verifikasi langkah kedua.

Caranya, data yang tidak valid dikembalikan ke kelurahan dan para ketua RT untuk dicek kembali. “Bisa jadi ini kesalahan mencatat,” ungkapnya.

Di samping itu Rizal mengakui telah mendengar beberapa laporan masyarakat terdampak yang belum terdata. Termasuk orang-orang yang selama ini bekerja di Balikpapan, namun tidak memiliki data yang tercatat di Disdukcapil. Rata-rata mereka adalah pekerja dari luar daerah yang sedang ngontrak atau ngekos, namun terdampak dan dirumahkan. Sehingga saat ini mereka tidak memiliki penghasilan, dan layak dibantu.

Ia tak menyebutkan jumlah pastinya, namun telah memiliki beberapa skenario untuk mengantisipasi situasi ini. Salahsatunya dengan mengirit bantuan yang telah diberikan kelompok-kelompok masyarakat yang peduli, serta para pengusaha maupun instansi swasta.

“Makanya bantuan sembako itu tidak saya distribusikan semuanya,” ujar Rizal, Minggu (17/5) kemarin. Saat ini pemkot telah mencatat bantuan dari 35 lembaga swasta. Bantuan itu berupa sembako dan keperluan medis.
Khusus stok bahan pokok yang tercatat di gudang penyimpanan cukup bervariasi. Ada 6.525 kilogram beras. Sebagian sudah disalurkan sebanyak 1.605 kilogram. Kemudian gula pasir 30 kilogram, semuanya sudah disalurkan. “Minyak makan, ada 148 liter juga sudah disalurkan,” ujarnya.

Kemudian stok telur sebanyak 2.709 piring. Sedangkan yang sudah disalurkan sebanyak 1.068 piring.
Rizal juga menyampaikan jumlah sembako bantuan swasta sebanyak 2.041 paket. Dari jumlah tersebut, telah disalurkan sebanyak 920 paket. “Ada juga sembako dalam bentuk tas, jumlahnya 1.229 paket dan sudah disalurkan 808 paket,” urainya.

Rizal menekankan stok ini akan disalurkan kepada warga yang tidak terdata. Baik dari ketua RT dan kelurahan.
Dari semua bantuan itu, pemkot mencatat bantuan terbesar diterima dari Pertamina Grup yang terdiri dari Pertamina RU V Balikpapan, Marketing Operation Region VI Kalimantan, Pertamina EP Asset 5, Pertamina Hulu Sanga-sanga (PHSS), Pertamina Hulu Mahakam (PHM), dan Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) turut andil dalam melawan wabah COVID-19. Total nilainya mencapai Rp 2 Miliar. (ryn/dah)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*